JANJI YANG HARUS TERINGKARI

“Aku akan selalu menantimu, sampai kapanpun !” kalimat itu selalu terngiang dikepalaku. Kalimat yang begitu kuat keluar dari bibir seorang lelaki bernama Tapak. Saat aku mendengarnya, aku tak begitu ambil pusing, karena kupikir, ah.. itu sih ucapan bulsyit, yang bisa saja diucapkan oleh siapapun yang sedang takut kehilangan kekasihnya. Tapi kenyataannya? Kita lihat saja….

***

Tapak adalah orang yang pernah selalu menghiasi hari-hariku. Pertemuan demi pertemuan didunia maya membuat semakin mengenal Tapak yang sesungguhnya. Entah kenapa aku belum pernah melihat fisiknya tapi aku merasa begitu dekat dengan Tapak. Hari demi hari diisi dengan bercanda, curhat sampai cerita sekitar lingkungan pekerjaan, keluarga dan tentunya tidak lupa aku menceritakan tentang pacarku, Raka yang sebenarnya aku belum bisa mencintai Raka, namun dengan segala kesabaran Raka meyakinkan aku untuk mencoba menjalaninya. Aku dan Tapak semakin mengenal satu sama lain. Makin lama aku merasa bahwa aku semakin dekat dan seolah-olah tidak ada jarak yang membentang. Sampai-sampai aku merasa Tapak-lah pacarku bukan Raka. Namun Tapak sangat mengerti sekali kalau aku tak ingin menyakiti hati Rakat. Tapak pernah berjanji tidak akan mengusik hubunganku dengan Raka, namun juga dia tidak akan membohongi perasaannya terhadapku, jika suatu saat nilai persahabatan bergeser dari tempatnya semula. Atas dasar itu aku dan Tapak berjanji untuk tidak saling menuntut lebih dari apa yang telah kami miliki sebelumnya sekalipun itu sebuah pertemuan. Itu dikarenakan kota aku dan dia saling berjauhan. Aku di Bandung dan Tapak di Makasar. Rasanya hal yang sangat mustahil aku bias bertemu dengan dia, kecuali ada Mukjizat Tuhan untukku.

Bila sehari saja aku tidak menemukan kabar tentang Tapak rasanya aku kehilangan sesuatu. Aku tahu perasaan ini salah, tapi ini sebuah kenyataan bahwa memang aku merasakan ada sesuatu yang lain dihati selain keberadaan Raka. Aku nggak bisa mengingkari atau menyalahkan siapapun karena sudah mengenal Tapak. Hingga pada akhirnya aku putuskan untuk menduakan hatiku dan pastinya tanpa sepengetahuan Raka. Caranya aku tidak pernah melarang Tapak untuk mencintaiku dan aku tak akan membohongi hatiku bila aku selalu kangen apapun tentang Tapak. Aku setuju dengan pendapat Tapak bahwa kami akan membiarkan dan tidak mengingkari semua rasa yang telah diberikan Tuhan kepada kami dengan apa adanya.

***

Waktu telah satu tahun berlalu, entah angin apa yang berpihak pada hubungan aku dan Tapak yang sebenarnya aku anggap sebagai dunia mimpi saja. Tiba-tiba Tapak memberi kabar bahwa dia dipindahkan bekerjanya di Jakarta. Aku tak bisa menutupi rasa bahagia, walau dalam hati aku ingin sekali mengatakan “kenapa sih nggak dipindah ke Bandung aja, aku kan jadi bisa deket ama kamu!” Tapi yah.. lebih baiklah, paling tidak biaya untuk ke wartel bias sedikit berkurang. Maklum dirumah kalo ketahuan interlokal mamah bias nyanyi berminggu-minggu tuh.

Komunikasiku dengan Tapak semakin lancar. Hingga pada suatu hari aku dan Tapak sepakat untuk janjian ketemuan dengan syarat bahwa diantara kami tidak akan saling menghina penampilan fisik. Aduh deg-degan banget….bayangin aja, aku belum tahu wajah Tapak dan aku yakin Tapak pun belum tahu aku. Tiba-tiba muncul rasa tidak percaya diri dalam benakku. Aduh, kenapa sih kok aku jadi begini… Seminggu sebelum ketemuan itu aku udah mempersiapkan diri mulai dari merapihkan potongan rambut yang sudah berantakan kayak megaloman, dan diet agar nampak tidak terlalu melebar, huh… dasar cewek takut aja kalo dibilang gemuk!

Pertemuan yang indah, penampilan fisik kami ternyata tidak berubah setelah pertemuan yang berkesan itu, komunikasi aku dan Tapak semakin kuat. Bahkan Tapak semakin sering berkunjung ke Bandung untuk menemui aku atau menjemputku untuk bersilahturahmi ke keluarganya di Jakarta. Kami memperkenalkan sebagai sahabat. Hari-hari yang kami lalui sangat indah dan berkesan. Banyak tempat-tempat indah yang menjadi kenangan buat aku dan Tapak.

Pertemuan yang sangat indah buatku, dimana kami berdua tidak memberikan point apapun pada penampilan fisik kami. Kami terlalu sibuk menata perasaan yang berkecamuk daripada melihat penampilan fisik masing-masing. Sejak saat itu komunikasi aku dan Tapak semakin kuat. Bahkan Tapak semakin sering berkunjung ke Bandung untuk sekedar menemui aku atau bahkan menjemputku untuk bersilahturahmi dengan keluarga besarnya di Jakarta. Kami memperkenalkan masing-masing sebagai sahabat. Hari-hari yang kami lalui sangat indah dan berkesan. Banyak tempat-tempat mendadak menjadi indah buat aku. Huh cinta…! Merubah segalanya menjadi berwarna.

Tak lupa aku pun memperkenalkan Tapak pada Raka disuatu sore ketika Tapak berkunjung ke bandung. Aku melihat mereka asyik mengobrol di samping rumahku. Nampaknya pembicaraan mereka mengasikan. Aku selalu menghindar bila Raka dan Tapak sedang mengobrol, aku takut bersikap kikuk. Sampai sejauh ini Raka tetap baik-baik saja dan mempercayai persahabatan aku dan Tapak.

***

Hubungan aku dan Raka telah berjalan empat tahun. Jauh lebih lama dibanding perkenalanku dengan Tapak yang baru tujuh belas bulan. Atas dasar itu kedua orangtuaku menginginkan aku untuk segera menikah dengan Raka. “Jangan kelamaan pacaran, banyak dosanya juga banyak godaanya, Ti!” begitu nasehat mamah padaku si suatu sore. Itu artinya aku harus segera menentukan arah perjalanan hidupku. Aku harus menentukan dengan siapa kelak aku harus menghabiskan sisa umurku. Aku harus segera menikah karena usiaku sudah tidak bisa dibilang remaja lagi. Bayangin tiga tahun ke depan usiaku memasuki kepala tiga. Untuk usiaku seperti sekarang ini teman-temanku kebanyakan telah memiliki anak. Kedua orangtuaku tidak pernah tahu bahwa aku punya dua pilihan untuk hal yang satu ini. Jujur saya aku belum bisa menentukan dengan yakin bahwa Tapak sebagai calon suamiku. Aku masih perlu banyak waktu untuk mengenal Tapak lebih jauh. Banyak hal yang belum terbahas dalam pertemuan-pertemuan aku dan Tapak. Bingung rasanya sementara satu sisi kedua orang tuaku hanya mengenal Raka saja pacarku. Suatu hari aku mencoba menjelaskan tentang keberadaan Tapak dalam hidupku kepada kedua orang tuaku. Aku tahu sekali mamah adalah orang terbijak yang pernah ada dihidupku, beliau tetap menyerahkan semua keputusan ditanganku. Ya Tuhan, aku harus bagaimana ? aku nggak mungkin memilih Tapak sebagai suamiku karena memang Raka telah hadir lebih dulu, sedangkan andai aku memilih Raka, aku nggak tahu harus dimulai dari mana aku menumbuhkan rasa cinta untuk Raka. Mamah hanya pesan, “Titi, cinta itu akan muncul dengan sendirinya, sepertinya halnya rasa cinta kamu pada Tapak. Mamah yakin suatu hari nanti kamu bias mencintai Raka, bahkan lebih dari mencintai Tapak. Mamah mohon kamu jangan membuat malu keluarga.” Aku nggak tahu harus bilang apa, aku nggak tega menyangkal ucapan mamah, padahal sungguh bertolak belakang dengan hatiku.

Berat rasanya aku harus sampaikan ini pada Tapak. Tapak hanya bisa meneteskan airmata ketika disuatu siang akhirnya aku sampaikan bahwa aku harus mengakhiri cinta ini. Aku tau benar Tapak sangat terpukul dan buatku ini semua bukan sebuah keputusan yang membahagiakan, tapi memang harus memutuskannya dengan segala pertimbangan dan pengorbanan. Aku sadar ini bukan pilihan yang enak buat siapapun, tapi aku harus tetap memilihnya Aku peluk Tapak untuk pertama sekaligus yang terakhir kalinya dengan erat, seakan aku ingin menyampaikan bahwa aku juga sebenarnya tak ingin kehilangan dia. Aku bisikan dengan penuh rasa, “Hanya kamu yang selalu ada dihatiku hari ini dan esok. Nggak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisimu dihatiku.” kataku dengan segala kepedihan.

“Aku tahu kamu mencintaiku, begitu juga aku. Aku akan menunggumu sampai kapanpun !” itu ucapan terkahir Tapak sebelum aku tak pernah melihat wajahnya lagi.

***

Saat ini, hari ini setelah hari berjalan enam tahun dari perpisahan aku dengan Tapak tiba-tiba aku diingatkan kembali sebuah nama yang tersimpan rapih dihati. Ketika aku sedang membereskan rumah. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah peti lama digudang. Penuh debu dan tak pernah terjamah oleh aku dan suamiku. Aku buka perlahan sambil tetap menahan nafas agar aku tak menghirup debunya. Aku lihat ada benada-benda yang aku bawa pindah dari rumah mamah dulu. Mulai dari boneka-boneka kecil koleksiku dan… dan.. tumpukan buku diaryku. Aku raih buku yang tersimpan pada tumpukan paling atas. Aku tahu betul ini adalah buku terakhir ku tulis sebelum aku menutup semua masa laluku. Aku lap buku perlahan seolah tak ingin melukainya dan ku peluk erat. Buku ini nampak tua dan sedikit kucel berdebu. Pikiranku langsung tertuju pada Tapak. Aku hafal betul dibuku ini banyak tertulis harapanku pada Tapak. Hmmmm bagaimana kabarnya Tapak yah? Semoga dia baik-baik saja dan lebih bahagia dari saat aku terakhir melihatnya dulu.

Aku sengaja menyimpan semua buku harianku sebagai kenangan. Aku senang sekali membuka-buka buku diaryku sejak aku pertama kali menulisnya dan itu sebagai pengobat aku ketika aku merasa kangen dengan masa laluku. Tiba-tiba aku merasa kangen sekali dengan Tapak. Terlintas didepan mata saat-saat aku bersama Tapak. Dimana aku merasa damai bila dekat dengan Tapak, aku mersa dimanja dan disayang. Hmmmm seakan selalu indah dan nggak pernah ada duka. Enam tahun hidup bersama Raka, perasaanku masih sama seperti dulu, tidak berubah. Tapi apa daya aku harus menjalani segala keputusan yang sudah aku ambil. Kadang aku merasa hidup diatas air tidak beriak tapi sangat melelahkan untukku. Yah… sebenarnya aku lelah harus menutupi hatiku. Berbeda dengan Raka, dia adalah suami yang sangat baik, dia melaksanakan kewajiban dia sebagai suami dengan sangat sempurna. Sebenarnya dalam hati aku sangat memujinya, tapi bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan rasa cinta.

“Aku tahu kamu sangat mencintainya..!” suara dibelakangku sangat memekakan telinga. Aku hafal betul bahwa suara itu milik Raka, suamiku. Ya Tuhan aku malu, aku bingung harus berbuat apa. Selama ini aku berusaha untuk tidak menyakiti Raka. Dia begitu mencintaiku, dia sangat sabar kepadaku. Aku nggak tega kalo dia tau bahwa masih ada nama lain dihatiku selain dia.

“Aku sudah membacanya, kamu gak harus menutupinya.” ucap Raka sambil duduk disebelahku. Aku hanya menunduk saja. Rasanya aku ditikam dari belakang. Ya Tuhan salahkah aku, lalu apa tujuanMu menghadirkan Tapak dalam hidupku, jika hanya akan menyakiti orang lain. Ada rahasia apa Ya Tuhan dibalik semua ini.

“Aku akan senang bila kamu bersatu dengan orang yang kamu cintai” lirih Raka berucap padaku “Aku rela jika kita harus berpisah” Raka bangkit dan berlalu menuju kamar setelah sebelumnya mengecup keningku.

Aku langsung merebahkan badan dilantai, tanpa peduli isi lemari yang masih berantakan dan berceceran. Oh My God.. baik sekali Raka. Kenapa Kau berikan seorang Raka yang sangat sempurna ini untukku sedang aku tak pernah bisa membuatnya bahagia. Aku harus bilang apa?

Mungkin perkataan Raka ada benarnya juga, bahwa aku akan sangat lebih bahagia bila aku hidup dengan orang yang aku cintai dan itu adalah Raka. Dalam kepalaku berkecamuk berbagai pikiran, aku ingin memberikan yang terbaik buat Raka sebelum aku benar-benar akan kembali pada Tapak. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku tentang Ririn, dia satu-satunya sahabatku yang belum menikah. Aku ingin menjodohkan Raka pada Ririn. Ririn sangat baik aku yakin mereka akan cocok dan akan saling mencintai.

***

“Gila… kamu gila Titi…! Aku gak setuju..!” Ririn kaget setelah aku sampaikan niat aku menjodohkan dia dengan Raka.

“Ririn, please denger dulu. Kamu kan dulu pernah naksir Raka, lagian kan kamu juga belum menikah. Apalagi? Apa kamu nggak ingin hidup bersama orang yang kamu cintai” kataku menjelaskan alasanku.

Ririn diam tertunduk. “Kamu benar-benar gila Titi.” Ririn tidak menolak maupun mengiyakan. Aku biarkan dia berfikir dengan apa yang aku sampaikan.

***

“Apa kabar..?” Aku mengawali pembicaraan lewat telpon dengan Tapak. Aku sengaja menelpon Tapak untuk mennyampaikan berita gembira ini. Setelah basa-basi ngaler ngidul aku sampaikan bahwa Raka setuju untuk bercerai dan aku akan kembali kepadanya. Aku dengar nada bahagia dari suara diseberang sana.

“Aku sangat yakin kamu akan kembali kepelukanku, karena kamu bunga terakhir dihidupku” begitu ucap Tapak diseberang sana. Aku Bahagia sekali ternyata Tapak masih setia menungguku, masih mencintaiku.

Langsung terbayang semua angan yang pernah dirajut, berbagai cita-cita yang pernah ada bersama Tapak, mulai dari punya rumah munggil yang halamannya luas dipinggiran kota Bandung, lalu bagaimana kami mendidik anak-anak kami dengan segenap cinta dihati kami…. Ah indah sekali.

“Titi, kapan kita bisa bertemu, nampaknya kita harus segera bertemu dan merancang masa depan kita” Tapak penuh semangat.

“Nanti aku beri kabar, aku harus sampaikan dulu pada Raka, karena dia juga ingin bertemu langsung denganmu” kataku sebelum aku pamit dan menutup telpon.

***

Setelah aku bicara pada Raka akhirnya disepakati, bahwa aku dan Raka akan datang ke Jakarta untuk menemui Tapak.Ya Tuhan baik sekali suamiku ini, semoga dia nanti mendapatkan penggantiku yang bisa membahagiakannya, do’aku dalam hati. Aku ingin Raka mendapatkan wanita yang tulus mencintai dia, dan bersedia mendampingi Raka selamanya, seperti halnya aku yang sebentar lagi akan bersama orang yang aku cintai.

***

Hujan sangat deras sekali pagi ini, seolah-olah tak bersahabat dengan aku. Entah keberapa kalinya aku mondar-mandir didepan pintu. Raka hanya memandangiku saja.

“Titi, kamu tenang, duduk dulu, kita tunggu ujan reda, baru setelah reda kita ke Leuwi Panjang.” Raka merangkulku dan mengajaknya duduk disampingnya.

“ Iya sih tapi nanti kita keburu siang sampai Jakarta. Kasihan kan Tapak nungguin kita kelamaan” kataku setengah merajuk.

Raka hanya tersenyum dan mengacak-acak rambutku seperti kepada anak kecil.

Hujan mulai sedikit reda. Aku dan Raka segera memesan Taxi. Ah, rasanya aku sudah ndak sabar ingin bertemu Tapak. Taxi yang kupesan lewat telpon akhirnya datang juga. Selama diperjalanan Raka menggenggam erat tanganku, aku merasakan dia sangat berat hatinya, aku merasakan dia sebenarnya nggak rela kehilangan aku. Tapi entah terbuat dari apa hatinya sehingga Raka merelakan aku kembali kepelukan Tapak. Jelas-jelas aku akan akan meninggalkannya. Hhhh kejam sekali aku, tapi apa tidak lebih kejam jika aku membangun rumah tangga dengan orang yang tidak kucintai. Aku seperti membangun rumah diatas pasir.

Begitu taxi sampai di terminal leuwi panjang dan berhenti di lobbynya. Aku segera melompat dan berlari ketepi jalan menembus hujan dan meninggalkan Raka yang sedang membayar ongkos taxi. Aku segera mencari tempat yang bias diapkai untuk berteduh berdua bersama Raka. Raka berlari kecil mengikuti aku. “Ah kesal banget kenapa sih hujan nggak reda “ gumanku dalam hati.

“Mba payung, mba!” seorang anak kecil menawari aku sewa payung, aku segera mengangguk dan mengambil payung dari lengan kecilnya yang gemetar karena kedinginan. Lalu aku serahkan pada Raka. Kami berjalan berdua memasuki terminal Leuwi Panjang. Raka merapaktkan tubuhku kepeluknya. Aku tau Raka khawatir aku basah kuyup… ah tapi sama saja toh tetep sebagian tubuhku basah.

Aku lihat ada sebuah bus jurusan Lebak Bulus siap-siap untuk berangkat. Aku dan Raka setengah berlari mengejar bis. Ups… aku melonjat naik ke atas bis disusul Raka dibelakangku. Brrr.. ternyata didalam bis udara semakin dingin. Aku memilih kursi ditengah yang kebetulan masih ada yang kosong. Ah akhirnya aku berangkat juga untuk menemui Tapak. Aku lepas jaketku yang agak kuyup. Raka membantu aku me-lap rambut dan mukaku yang basah. Aduh dingin sekali, aku merasa aku masuk angin. Aku yakin aku masuk angin setelah aku sadar tadi dirumah aku tidak sempat sarapan. Aku lirik jam menunjukan pukul 8 pagi lebih 15 menit. Aku semakin menggigil. Raka nampak bingung melihat aku menggigil. Dia segera mendekap aku, dipeluknya aku erat. Aku merasa ada sedikit rasa hangat yang disalurkannya. Ku rebahkan kepalaku dibahu Raka. Sambil setengah terkantuk-kantuk, pikiran ku melayang jauh. Menyusuri hari-hari yang kulalui bersama Raka. Kuingat-ingat betapa Raka tidak pernah menyakitiku semenjak pernikahan, bahkan sebelum pernikahan pun Raka belum bernah mengecewakan aku. Kenapa Aku harus menyia-nyiakan Raka. Kenapa aku harus menyakiti Raka. “Jahat sekali kamu Titi!” hati kecilku berbisik, “Kenapa kamu tidak bisa melihat sisi kebaikan dari Raka, Kenapa mata hatimu telah dibutakan, Apa kamu nggak merasakan andai kamu yang dicampakkan seperti kamu mininggalkan orang yang selama ini rela berkorban untukmu?”

***

“Titi bangun…! Kita sudah sampai terminal Lebak Bulus” suara Raka membangunkanku. Aku kaget dan celingkukan, ternyata para penumpang bus hampir semua turun.

“Ayo turun, kita sudah sampai” Raka berkata dengan lembut sambil mengajakku untuk berdiri.

Aku berdiri. Aku langsung memeluk Raka. Entah kenapa aku merasa telah melakukan suatu kesalahan. Aku merasa aku akan melakukan hal yang salah sedang aku tahu itu adalah sebuah kesalahan besar. Aku akan meninggalkan orang yang jelas-jelas telah menyisihkan hidupnya untukku akhir-akhir ini. Kenapa aku harus bertindak bodoh. Kenapa aku begitu mendewakan sebuah kata cinta. Kini aku benar-benar merasa tak rela jika harus kehilangan Raka. Aku merasa lebih membutuhkan Raka dalam hidupku. Aku sadar Tapak hanyalah sebuah masa lalu. Aku terlalu mengikuti ego dimasa lalu, sedangkan aku telah hidup dimasa kini bersama Raka.

“Aku mau pulang saja, Raka! Aku hanya ingin bersamamu, Aku nggak mau berpisah darimu” kataku sambil menangis dan memeluk Raka erat sekali.

Aku lihat Raka kebingungan. Dipapahnya aku turun dari bis.

“Titi, ada apa ini? Kamu kan ingin bertemu dengan orang yang kamu cintai kan? kamu ke Jakarta ini untuk Tapak kan? Kasihan dia!” Raka mencoba mengingatkan kembali tujuan ke Jakarta kepadaku. Aku merasa aku harus tidak peduli dengan kalimat Raka. Aku sangat merindukan rumah yang selama ini telah banyak menyimpan cerita aku dan Raka. Aku berjanji akan jadi istri yang setia buat Raka, istri yang mengabdikan hidupnya untuk Raka. Au sadari dibalik kata bahwa aku tak bias mencintai Raka, sebenarnya telah tumbuh cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak pernah aku sadari tapi telah membuat aku bertahan hidup bersama Raka hingga saat ini.

“Raka, aku hanya inginkan kamu, aku ingin pulang kerumah kita.. Maafkan kekeliruanku, maafkan aku Raka.” Ku peluk erat Raka. Aku merasa benar-benar bodoh dimata Raka.

Raka hanya diam. Akhirnya aku dan Raka mencari bis jurusan Bandung. Ku lihat Bis yang aku maksud tak jauh dari tempat kami berdua berdiri. Aku langsung menarik lengan Raka dengan setengah berlari menuju Bis. Lalu aku duduk. Aku diam. Kutarik nafas dalam-dalam, aku pejamkan mata, “ Ya Allah terima kasih. Telah Kau tunjukan aku jalan yang terbaik, Terima kasih Ya Allah karena hampir saja aku kehilangan harta berhargaku, Raka.”

Didalam bis kugenggam erat tangan Raka. Kembali kurebahkan kepalaku dibahunya. Terbayang sudah lembaran baru yang harus aku lakukan setelah tiba dirumah. Tiba- Tiba mataku hangat, aku tak bisa menahan tangis. Aku menangis bahagia, karena aku telah selamat dari godaan terbesar, yaitu mengalahkan ego-ku sendiri. Perlahan aku merasakan ada kehangatan di keningku. “Titi, aku selalu mencintaimu! Jangan pernah pergi lagi dariku” ucap Raka setelah mengecup keningku. Kini aku sadari damai itu ada disini, dipelukan suamiku, Raka.

**************************

cerita ini buat membangunkan sahabat yang sedang terlena, bahwa.."apa yang telah diberikan Tuhan lewat tangan suami dan anak.. jauh lebih bernilai ibadah..... pulanglah sahabat....!"


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments